<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2003414905144268390</id><updated>2012-02-16T18:45:08.223+07:00</updated><title type='text'>JURNAL MANIFESTO</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mas_rama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16382227860388846427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SStZ5jOAezI/AAAAAAAAAF0/5lSvr9V9b-I/S220/Img00231.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2003414905144268390.post-9146636257382489515</id><published>2009-01-22T13:33:00.002+07:00</published><updated>2009-01-22T13:36:23.869+07:00</updated><title type='text'>OPINI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;”Pemilu yang Rileks”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 24px; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Politik itu parodi, parodi itu  tidak ada. Pemilu itu pesta demokrasi, demokrasi itu tidak ada. Kira-kira itu kata-kata yang menyeruak dan menyembul dari ubun-ubun penulis memikirkan format cara pandang yang berupaya mengolaborasikan antara pesimisme dan anti optimisme. Pesimisme masih memimpin meskipun konon 2008 adalah kemenangan sang pemimpi. Sang Barack Obama sebagai pemimpi berhasil menjadi presiden AS, dan di dalam negeri ada Laskar Pelangi sebagai kemenangan Andrea Hirata sebagai si Pemimpi dari kampung melayu-Belitong.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita akan mencoba membagi model pemilihan umum menjadi beberapa bagian. Karena demokrasi adalah option maka anda bisa memilih mana yang paling anda sukai atau tidak disukai. Rasionalitas anda tidak dipaksakan asal tidak menuju the common tragedy atau bencana ummat. Ada 5 macam model pemilu antara lain; Pemilu sebagai pesta kerakyatan, Pemilu tanpa demokrasi, pemilu yang elitis, pemilu yang high cost, dan pemilu yang rileks. Sebagai penjelasan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Pemilu sebagai pesta kerakyatan. Terjadi kira-kira tahun 1950-an yang dianggap menjadi ujung tombang demokrasi prosedural sebagai kemenangan antara kelompok administrator dan solidarity maker. Idealnya kampanye politik tidak mahal, tidak anarkhis, berani debat gagasan, dan tentu saja sangat ideologis sebagai argumen utama tindakan politik para aktor. Pemilu yang akan diselenggarakan pada tahun 2009 memiliki arti dan makna yang sangat strategis dan penting bagi kemajuan bangsa dan Negara Indonesia di masa mendatang. Pemilu itu merupakan momentum penting bagi rakyat, karena mereka mendapat kesempatan untuk dapat memilih wakil-wakil dan pemimpinnya yang dianggap terbaik dan diharapkan dapat membawa perbaikan dan kemashlahatan bagi rakyat dan bangsa negeri ini untuk masa lima tahun ke depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Pemilu tanpa demokrasi alias demokrasi minus demokratis. Artinya, pemilu hanya menjadi abang-abang lambe, sebab sebelum pemilu sudah ada pemenangnya. Pihak yang berkuasa memakasakan segala sumber daya alam yang bisa dimodifikasi kayak tanah lempung, kaum birokrat menjadi pengikat suara dari kota sampai ke pelosok desa. Terjadi sepanjang tahun dibawah kekuasaan Orde Baru Panglima dan Raja besar Jendral Soeharto. Dulunya asasnya LUBER (langsung Umum Bebas rahsia). Lalu setelah reformasi ditambah dengan JURDIL (jujur dan adil) karena selama Orde Baru memang Demokratis tapi minus kejujuran dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Pemilu yang elitis. Pemilu memang untuk orang-orang punya modal, elite yang berkuasa dan untuk menumpuk kekuasaan dan harta modal bagi kaun the haves. Pemilu yang demikan sama sekali jauh dari pesta rakyat. Akan tetapi, meminjam bahasa Iwan fals pesta pora binatang” yang saling menjejak, menjegal dan mengadu domba. Pemilu selalu dimenangkan oleh the haves dan mengorbankan the haves not atau rakyat kebanyakan. Sekali lagi, hanya pemilu 1955 sebagai kemenangan rakyat untuk menentukan kehidupan berbangsa-bernegara dari kolonialisme. Pemilu berikutnya adalah pemilu elitis, dan dipaksakan menjadi populis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Pemilu yang high cost. Dibandingkan dengan Pemilu 2004 yang hanya menghabiskan biaya sekitar Rp 3,5 triliun untuk Pemilu DPR, DPRD I, DPRD II dan DPD serta Pemilihan Presiden (Pipres), maka Pemilu 2009 mengalami lonjakan yang sangat tajam. Ketua KPU, Abdul Hafidz Anshori menyebutkan total anggaran KPU dan Pemilu 2009 sekitar Rp 47,9 triliun. Anggaran tersebut dialokasikan untuk kebutuhan KPU dan Pemilu masing-masing sebesar Rp 18,6 triliun untuk tahun 2008, dan Rp. 29,3 triliun untuk proses Pemilu 2009. Biaya pemilu mungkin terlalu besar bagi kaum idealis. Jika miliaran bahkan sampai trilyun bisa dibantukan untuk membuka lowongan pekerjaan, memberdayakan fakir miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Pemilu yang anarkhis. Terjadi bakar-bakaran, perang seiman dan seagama, se tanah air dan sebagainya. Sangat disayangkan jika Golput diharamkan, dan dilarang atau sampai dipidanakan. Tidak memilih bukan berarti tidak cintah tanah air atau nasionalismenya telah tumpul. Tidak ada hubungan sama sekali. Pemilu seperti adzan, jika ada tetangga tidak datang ke masjid ya apa salahnya. Dalam konteks pemilu, tidak datang ke bilik suara, apa hendak di kata bisa jadi ada sesuatu yang lebih penting dari pencoblosan atau pencontrengan kertas secara berjamaah. Pemaksaan memilih sendiri menciderai demokrasi, penindasan apalagi pasti menganiaya kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir adalah, Pemilu yang rileks. Santai aja tidak perlu perang saudara, konflik vertikal atau horisontal. Tapi memang yang diatas harus dibuat tahu diri dan ”nyadar gitu lho.” agar kehidupan ini adil, bukan sekedar parodi karena hidup kayak parodi bisa jadi sangat menyakitkan wong elit. Pemilu legislatif dan Pemilihan Presiden tahun depan, sebenarnya bukan hanya sekedar untuk menggantikan anggota DPR dan presiden, tetapi juga partai politik yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Efendi, S.IP&lt;br /&gt;Mahasiwa sekolah pasca Sarjana Ilmu Politik UGM&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2003414905144268390-9146636257382489515?l=jurnalmanifesto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/feeds/9146636257382489515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2003414905144268390&amp;postID=9146636257382489515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/9146636257382489515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/9146636257382489515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/2009/01/opini.html' title='OPINI'/><author><name>mas_rama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16382227860388846427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SStZ5jOAezI/AAAAAAAAAF0/5lSvr9V9b-I/S220/Img00231.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2003414905144268390.post-4210659697737169232</id><published>2009-01-21T10:53:00.000+07:00</published><updated>2009-01-21T10:55:10.672+07:00</updated><title type='text'>BELAJARLAH UNTUK RAKYAT!</title><content type='html'>”...jika semua rakyat bisa membaca , tidak ada penguasa, pendeta, ulama, atau pangeran yang bisa mempertahankan monopoli mereka terhadap kedaulatan kata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana lagi, terpaksa harus ikut ambil bagian dalam musim panen partai. Musim panen semoga tidak hanya untuk rakyat yang ”gede” alias kaum papan atas yang kehidupannya sudah borjuis. Seharusnya dan selayaknya kemunculan partai-partai ini mampu memberikan kehidupan yang lebih baik. Karena apa? Semakin banyak yang memperjuangkan nasib kehidupan takyat yang kurang beruntung bahkan cenderung tertindas dan ditindas oleh sistem pembangunan. Kebangkitan nasional untuk rakyat miskin, masih jauh panggang dari api. Permainan data rakyat miskin sampai sekarang tidak jelas, naik turun dan jika naik naiknya sangat tinggi seperti deret ukur dan jika angka kemiskinan dan kebodohan turun, toh turunya hanya sedikit saja. Pemerintahan berjalan selalu melaporkan succses story dan kegagalan demi kegagagalan pembangunan dari sabang sampai merauke tiada kabar yang baik. Sehingga media massa menjadi penting jika berkebalikan dengan pemerintah dengan tetap memegang prinsip bad news is good news. Begitulah seharusnya memang check and balances dipraktikkan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Partai tidak harus dijauhi akan tetapi rakyat harus terus menuerus mengontrol sebab beberapa alasan. Pertama, keberpihakan partai kepada rakyat masih jauh dari yang diharapkan. Kedua, survey membuktikan bahwa partai menjadi lahan koruptor bersarang dan mencari penghidupan. Ketiga, keuangan partai yang tidak transparan, selain membuat beban negara bertambah besar. Hal ini menjadikan kaum terpelajar terus bergerak untuk menjadi mata-mata rakyat untuk mengusung ide agar partai betul-betul menjadi pahlawan bagi rakyat, menjadi superhero bagi kesejahteraan rakyat miskin. Partai sejatinya menjadi alat perlawanan terhadap kebodohan, kejumudan, dan segala sesuati yang menyengsarakan rakyat. Politik bukan mahkluk kotor atau tercela, pelakunya lah yang menentukan warna politik akan menjadi anugerah atau bencana. Sehingga betul kata Laswell bahwa politik adalah siapa mendapat apa dan bagaimana? (who get what and how?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke maksud utama, penulis ingin menyampaikan perlunya menjaga daya kritis yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan. Salah satu cara yang paling memungkinkan untuk mencounter budaya berpartai yang buruk adalah mendidik rakyat karena bukankah kaum intelektual belajar untuk rakyat? Iya jelas. Kaum terdidik harus memihak rakyat kebanyakan dan jangan sekali-kali memilih abstain, cuti atau golput dalam memihak rakyat miskin dan bodoh. Bodoh dan miskin tidak karena takdir, akan tetapu karena kran dan akses ditutup dan dikuasi oleh jaringan mavia uang yang merasuk sampai pelosok desa dalam wujud yang beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat perlu dididik, agar mempu membaca teks dan realitas politik yang penuh paradoksal. Terlebih menjelang gegap kompetisi politik dan partai pada tahun 2009 nanti. Tentu ini akan membawa konsekuensi yang besar bagi rakyat apabila tidak mulai sekarang dididik, dilatih, agar melek politik, agar tidak dibodohi oleh partai politik dan elitnya yang selalu menebar pesona, selalu menyebar jala janji-janji yang kadang tidak rasional bahkan hanya abang-abang lambe (lips services). Sekarang pertanyaannya bagaimama cara mendidik rakyat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini penulis mengusulkan beberapa agenda aksi yang harus diusung oleh kelompok  terpelajar dalam menyelamantakan aset bangsa yang bernama rakyat kebanyakan menjelang pemilu 2009. Pertama, pembekalan ideologis. Rakyat harusnya diberikan pemahaman bahwa sejatinya partai politik adalah alat perjuangan dalam rangka membela kepentingan rakyat. Ketika pada zaman kolonial, partai muncul sebagai reaksi dari penindasan yang berkesinambangan dan anti perikemanusiaan. Selain partai politik, ada satu gerakan yang tergabung dalam pendidikan Nasional Indonesia yang inilah kemudian melakukan upaya yang serius mencerdaskan rakyat. Wujudnya seperti partai akan tetapi bukan peserta /kompetitor pemilu pada saat itu. Proses ideologisasi partai yang demikian menjadi penting agar rakyat mampu mengukur, sejauh mana keberpihakan partai idaman atau partai yang mndekatai komunitasnya mampu dan mau memihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Rakyat harus belajar membaca. Pelajar harus mau belajar untuk rakyat. Membaca adalah jendela untuk memahami realitas. Tanpa kemampuan membaca media atau berita rakyat akan menjadi bulan-bulanan dipermainkan oleh isu-isu yang tidak prinsipil misalnya soal pornografi, soal aliran sesat, soal korupsi, sementara kebutuhan mendasar adalah memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pekerjaan yang layak. Pemerintah seolah lepas dari tanggung jawab jika rakyat beradu kekuatan antar rakyat mengenai satu hal yang bisa dibilang masalah kecil dan sepele. Kelompok terpelajar dari univesrsitas bisa dan seharusnya melakukan pendidikan politik melalui program KKN (kuliah Kerja Nyata) atau bentuk program pemberdayaan lainnya. Hal inilah yang seharusnya menjadi kewajiban kampus untuk andil dalam menyelematkan masa depan bangsa dari kepunahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kelompok terpelajar hadir menjadi referensi atau imaginasi bahwa rakyat harus pintar, cerdas, kritis, dengan belajar hal-hal yang sederhana agar rakyat tidak kerap diapusi alias dibujuki alias dibohongi. Kelompok terpelajar berkiprah secara konsisten dan konsekuen mengabdi kepada rakyat bukan menjadi menifefestasi sebagaimana 34 partai politik peserta pemilu plus 6 partai lokal akan tetapi PRM lebih sebagai kekuatan baru rakyat kebanyakan untuk menggalang kekuatan saling membentengi diri dari ”kebusukan partai politik” dan ”politisi busuk” sehingga mendapatkan manfaat yang banyak dari jumlah partai politik yang juga bertambah banyak. Indikasi dari gerakan PRM adalah kemampuan rakyat kecil dan komunitas untuk melakukan kontrak sosial atau kontrak politik dengan partai dan calon politisi (caleg) dalam bentuk perjanjian hitam diatas putih. Dan pembelajaran komitmen ini akan menjadi penting manakalah kehidupan berbangsa terus berjalan, dan tantangan-tantangan rakyat kian berat. Kepada siapa rakyat akan mengadu?? Mungkin ada secercah harapan tersisa dari gegap gempita menjelang musim panen partai pada tahun 2009 nanti. Semoga saja keberpihakan untuk rakyat senantiasa dipertahankan dan diperjuangkan dan bukan untuk diperjualbelikan untuk kepentingan singkat dan sesaat. Politik memang penuh ketidakpastian, disatu sisi memperbanyak teman juga menambah lawan. Tapi yang jelas, salah satu prinsip dasar politik sebagai the art of possibility adalah make possible what seem imposible!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Efendi&lt;br /&gt;Mahasiwa Sekolah Pasca Sarjana Ilmu Politik UGM Yogayakarta.&lt;br /&gt;Dimuat di koran media Indonesia, 1 September, 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2003414905144268390-4210659697737169232?l=jurnalmanifesto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/feeds/4210659697737169232/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2003414905144268390&amp;postID=4210659697737169232' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/4210659697737169232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/4210659697737169232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/2009/01/belajarlah-untuk-rakyat.html' title='BELAJARLAH UNTUK RAKYAT!'/><author><name>mas_rama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16382227860388846427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SStZ5jOAezI/AAAAAAAAAF0/5lSvr9V9b-I/S220/Img00231.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2003414905144268390.post-7340073332698586731</id><published>2008-12-27T12:49:00.001+07:00</published><updated>2008-12-27T12:49:54.291+07:00</updated><title type='text'>Pelatihan Wirausaha dan Koperasi PC IRM Sukorejo</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SVW-UCTL3mI/AAAAAAAAAKo/wEDAfMAD91I/s1600-h/foto2.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 264px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SVW-UCTL3mI/AAAAAAAAAKo/wEDAfMAD91I/s320/foto2.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284338989213146722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dalam Menghadapi Periodesasi yang baru setelah IRM kembali Menjadi IPM,Disetiap Ranting ada sebuah bidang baru yakni Bidang Kewirausahaan,dalam menyiapkan bidang itu maka PC IRM Suorejo Mengadakan pelatihan Kewira usahaan yang dihadiri oleh seluruh ranting di daerah Sukorejo,Turut hadir pula dari tamu undangan yakni SMP/MTs/SMA/SMK se kawedanan Selokaton dan tamu undangan dari Kec Weleri yang jumlahnya mencapai 90 Anak, kegitan itu berlangsung di Auditorium SMK Muhammadiyah 04 Sukorejo pada tanggal 25 Desember 2008.&lt;span class="fullpost"&gt;“ Pelatihan Itu kami tujukan untuk Memberikan dasar dan wawasan kewirausahaan dan bekal bagi kaum muda agar semangat kewirausahaan mereka meningkat” kata Ketua Panitia Kholid Moris,Dalam acara tersebut PC IRM Sukorejo menghadirkan beberapa narasumber diantaranya: Bp Suhendra(Dinas Koperasi Kab Kendal),Drs H. Cahyanto( Pemilik ALDILLA Group),Bp Sofyan ( Pengusaha Peternakan) dan Juga Bapak Sutiono( Wira Usaha/PCM Sukorejo)&lt;br /&gt;“ Kami mendapatkan Ilmu yang luar biasa dari kegiatan ini,semoga kegiatan  semacam ini dapat  diadakan lagi kalau perlu yang lebih baik lagi,,,,,Hebat Luar biasa......”kata Annas salah satu peserta dari SMK Muhammadiyah 04 Sukorejo.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SVXAeMqz3GI/AAAAAAAAALA/i5_0vVS-gms/s1600-h/foto.png"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 127px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SVXAeMqz3GI/AAAAAAAAALA/i5_0vVS-gms/s320/foto.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284341362818538594" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2003414905144268390-7340073332698586731?l=jurnalmanifesto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/feeds/7340073332698586731/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2003414905144268390&amp;postID=7340073332698586731' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/7340073332698586731'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/7340073332698586731'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/2008/12/pelatihan-wirausaha-dan-koperasi-pc-irm.html' title='Pelatihan Wirausaha dan Koperasi PC IRM Sukorejo'/><author><name>mas_rama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16382227860388846427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SStZ5jOAezI/AAAAAAAAAF0/5lSvr9V9b-I/S220/Img00231.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SVW-UCTL3mI/AAAAAAAAAKo/wEDAfMAD91I/s72-c/foto2.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2003414905144268390.post-2725381905623990313</id><published>2008-11-12T12:31:00.000+07:00</published><updated>2008-11-14T07:42:47.018+07:00</updated><title type='text'>Dasar Berita</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;1. Pengertian berita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Sesungguhnya berita adalah hasil rekonstruksi tertulis dari realitas sosial yang terdapat dalam kehidupan. Itulah sebabnya ada orang yang beranggapan bahwa penulisan berita lebih merupakan pekerjaan merekonstruksikan realitas sosial ketimbang gambaran dari realitas itu sendiri. Saya sendiri setuju dengan anggapan ini. Bagaimanapun, tidak ada seorang pun yang sanggup merekonstruksikan realitas sosial memiliki empat muka, maka yang sering diungkap para wartawan hanya dua muka.Hal ini diakui sendiri oleh Thoriq Hadad, wartawan eks Tempo. Dalam sebuah perbincangan dengan saya di Surabaya, 6 Agustus 1994. Thoriq Hadad mengatakan bahwa apa yang diungkapkan Tempo dalam pemberitaannya hanya sekitar 60% dari apa yang diketahui Tempo. Sudah begitu, pemerintah masih menganggap Tempo tidak bisa menahan diri.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);" class="fullpost"&gt;Lalu, bagaimana mendefinisikan berita? Untuk keperluan definisi berita, bisa saja dikutip pendapat Nancy Nasution, yakni: Laporan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi, yang ingin diketahui oleh umum, dengan sifat-sifat aktual, terjadi di lingkungan pembaca, mengenai tokoh terkemuka, akibat peristiwa tersebut berpengaruh terhadap pembaca (Dalam Basuki 1983:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga dikutipkan pendapat W.J.S. Purwadarminta, yang mengatakan bahwa berita adalah laporan tentang satu kejadian yang terbaru (ibid). Kedua pengertian ini menimbulkan pendapat bahwa tidak semua yang tertulis dalam surat kabar atau majalah bisa disebut sebagai berita. Iklan dan resep masakan tidak bisa disebut berita. Yang disebut berita adalah laporan tentang sebuah peristiwa. Dengan perkataan lain, sebuah peristiwa tidak akan pernah menjadi berita bila peristiwa tersebut tidak dilaporkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Nilai-nilai berita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua laporan tentang kejadian pantas dilaporkan kepada khalayak. Pertengkaran antara suami-istri orang kebanyakan tidak perlu dilaporkan kepada khalayak. Pekerjaan seorang dosen membimbing mahasiswa juga tidak perlu dilaporkan kepada khalayak. Mengapa? Di samping merupakan peristiwa rutin, kedua peristiwa tersebut juga tidak memiliki nilai berita.&lt;br /&gt;Lalu, apa kriteria peristiwa yang patut dilaporkan kepada khalayak? Kriterianya hanya satu, yaitu peristiwa yang memiliki nilai berita. Nilai berita sendiri, menurut Julian Harriss, Kelly Leiter dan Stanley Johnson, mengandung delapan unsur, yaitu: konflik, kemajuan, penting, dekat, aktual, unik, manusiawi, dan berpengaruh (Harriss, Leiter dan Johnson 1981:29-33). Artinya, sebelum seseorang melaporkan sebuah peristiwa, ia perlu mengkonfirmasikannya dengan kriteria-kriteria tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasionalisasinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik&lt;br /&gt;Informasi yang menggambarkan pertentangan antar manusia, bangsa dan negara perlu dilaporkan kepada khalayak. Dengan begitu khalayak mudah untuk mengambil sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan&lt;br /&gt;Informasi tentang kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi senantiasa perlu dilaporkan kepada khalayak. Dengan demikian, khalayak mengetahui kemajuan peradapan menusia. Penting Informasi yang penting bagi khalayak dalam rangka menjalani kehidupan mereka sehari-hari perlu segera dilaporkan kepada khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekat&lt;br /&gt;Informasi yang memiliki kedekatan emosi dan jarak geografis dengan khalayak perlu segera dilaporkan. Makin dekat satu lokasi peristiwa dengan tempat khalayak, informasinya akan makin disukai khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktual&lt;br /&gt;Informasi tentang peristiwa yang unik, yang jarang terjadi perlu segera dilaporkan kepada khalayak. Banyak sekali peristiwa yang unik, misalnya mobil bermain sepak bola, perkawanan manusia dengan gorila, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusiawi&lt;br /&gt;Informasi yang bisa menyentuh emosi khalayak, seperti yang bisa membuat menangis, terharu, tertawa, dan sebagainya, perlu dilaporkan kepada khalayak. Dengan begitu, khalayak akan bisa meningkatkan taraf kemanusiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpengaruh&lt;br /&gt;Informasi mengenai peristiwa yang berpengaruh terhadap kehidupan orang banyak perlu dilaporkan kepada khalayak. Misalnya informasi tentang operasi pasar Bulog, informasi tentang banjir, dan sebagainya. Jumlah unsur nilai berita yang harus dipenuhi setiap peristiwa sebelum&lt;br /&gt;dijadikan berita berbeda pada setiap penerbitan pers. Ada surat kabar yang menetapkan hanya lima unsur nilai berita. Tetapi, ada juga yang enam unsur. Yang jelas, makin banyak sebuah peritiwa memiliki unsur nilai berita, makin besar kemungkinan beritanya disiarkan oleh penerbitan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Jenis-jenis berita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sepakat bahwa yang menjadi bahan dasar berita adalah realitas sosial dalam bentuk peristiwa, maka jelas peristiwa itu bermacam-macam. Da peristiwa orang berseminar. Ada pula peristiwa pembunuhan. Bahkan ada peristiwa pembatalan SIUPP. Untuk memudahkan penggolongan jenis-jenis berita berdasarkan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia, Maryono Basuki membagi berita berdasarkan: (1) sifat kejadian; (2) masalah yang dicakup; (3) lingkup pemberitaan; dan (4) sifat pemberitaan (Basuki 1983:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasionalisasinya begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sifat kejadian.&lt;br /&gt;Terdapat empat jenis berita, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berita yang sudah diduga akan terjadi.&lt;br /&gt;Misalnya: wawancara seorang wartawan dengan Goenawan Mohamad yang tampil dalam sebuah seminar.&lt;br /&gt;2. Berita tentang peristiwa yang terjadi mendadak sontak.&lt;br /&gt;Misalnya: peristiwa kebakaran kantor sentral telepon.&lt;br /&gt;3. Berita tentang peristiwa yang direncanakan akan terjadi.&lt;br /&gt;Misalnya: peristiwa peringatan Hari Lingkungan Hidup setiap 5 Juni.&lt;br /&gt;4. Berita tentang gabungan peristiwa terduga dan tidak terduga.&lt;br /&gt;Misalnya: peristiwa percobaan pembunuhan kepala negara pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan masalah yang dicakup.&lt;br /&gt;Masalah di sini biasanya merujuk kepada aspek kehidupan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Secara umum, terdapat empat aspek kehidupan manusia, yaitu: aspek sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Tetapi, seiring dengan perkembangan masyarakat, keempat aspek ini terasa tidak memadai lagi. Ia perlu dipecah lagi menjadi berbagai aspek. Karena itu, tidak ada salahnya menggolongkan jenis berita berdasarkan masalah yang dicakup menurut jumlah kementrian yang ada dalam Kabinet Pembangunan 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar pemikiran ini, jenis-jenis berita tersebut menjadi: berita dalam negeri, berita luar negeri, berita hukum, berita sosial, berita pendidikan dan kebudayaan, berita pertanian, berita lingkungan hidup, berita perumahan, berita pemuda dan oleh raga, berita transmigrasi, berita kesehatan, berita ilmu pengetahuan, berita kopersi, berita pertanahan, berita penerangan, berita perindustrian, berita perbankan, berita perhubungan, berita perdagangan, berita kehutanan, berita agama, berita pertambangan, dan berita pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan lingkup pemberitaan. Lingkup pemberitaan, biasanya,&lt;br /&gt;dibagi menjadi empat bagian, yaitu lokal, regional, nasional, dan internasional. Sebuah berita disebut berlingkup lokal kalau peristiwa yang dilaporkannya terjadi di sebuah kabupaten dan akibatnya hanya dirasakan di daerah itu, atau paling-paling di kabupaten lain dalam propinsi yang sama. Sebuah berita disebut berlingkup nasional kalau pelaporan peristiwa yang terjadi di satu negara dapat dirasakan di negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan sifat pemberitaan. Sifat berita bisa dilihat dari isinya.&lt;br /&gt;Ada isi berita yang memberitahu, mendidik, menghibur, memberikan contoh, mempengaruhi, dan sebagainya. Bisa saya sebuah berita mempunyai sifat lebih dari satu. Tetapi, sifat berita yang terutama adalah memberitahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;4. Unsur-unsur berita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara umu, unsur-unsur berita yang selalu ada pada sebuah berita adalah: headline, deadline, lead, dan body (Basuki 1983:22-25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Headline.&lt;br /&gt;Biasa disebut judul. Sering juga dilengkapi dengan anak judul. Ia berguna untuk: (1) menolong pembaca agar segera mengetahui peristiwa yang akan diberitakan; (2) menonjolkan satu berita dengan dukungan teknik grafika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deadline.&lt;br /&gt;Ada yang terdiri atas nama media massa, tempat kejadian dan tanggal kejadian. Ada pula yang terdiri atas nama media massa, tempat kejadian dan tanggal kejadian. Tujuannya adalah untuk menunjukkan tempat kejadian dan inisial media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead.&lt;br /&gt;Lazim disebut teras berita. Biasanya ditulis pada paragraph pertama sebuah berita. Ia merupakan unsur yang paling penting dari sebuah berita, yang menentukan apakah isi berita akan dibaca atau tidak. Ia merupakan sari pati sebuah berita, yang melukiskan seluruh berita secara singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Body.&lt;br /&gt;Atau tubuh berita. Isinya menceritakan peristiwa yang dilaporkan dengan bahasa yang singkat, padat, dan jelas. Dengan demikian body merupakan perkembangan berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;5. Struktur berita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Struktur berita sangat ditentukan oleh format berita yang akan ditulis. Struktur berita langsung berbeda dengan beritaringan dan berita kisah. Tetapim, untuk berita langsung, menurut Bruce D. Itule dan Douglas A. Anderson, struktur yang lazim hanya satu, yaitu piramida terbalik (Itule dan Anderson 1987: 62-63).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead menunjukkan bagian permulaan berita yang paling penting.&lt;br /&gt;Sedangkan piramida terbalik menunjukkan begian yang penting dari sebuah&lt;br /&gt;berita pada bagian awal dan makin ke bawah makin kurang penting. Dengan&lt;br /&gt;perkataan lain, seiring dengan menyempitkan piramida terbalik, berkurang&lt;br /&gt;pula arti penting beritanya. Struktur seperti ini, di samping memudahkan&lt;br /&gt;mengenali inti berita, juga memudahkan pemotongan bagian yang tidak&lt;br /&gt;mungkin termuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber: Ditjen Pendidikan Tinggi Dep P dan K, 1978: 148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur (1) pada gambar memperlihatkan bahwa semua bagian berita sama pentingnya. Struktur ini sering menyertakan sub judul pada bagian body. Struktur(1) juga cocok untuk menyajikan berita secara kronologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan struktur (2) memperlihatkan body, yang semakin ke bawah semakin berkurang bobotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur-struktur berita di atas bisa dipandang sebagai kerangka berita, yang akan diisi dengan fakta. Dalam mengisi kerangka berita, satu hal yang perlu diperhatikan adalah keterkaitan ide yang dikandung satu alinea dengan ide yang dikandung alinea berikutnya. Kalau keterkaitan itu tidak ada, maka ceritanya akan tersendat-sendat, tidak ?mengalir?. Pengalaman menunjukkan, hanya berita yang terasa ?mengalir? saja yang disenangi oleh khalayak. (sumber : http://aliefnews.wordpress.com/2008/01/11/konsep-dasar- berita/)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2003414905144268390-2725381905623990313?l=jurnalmanifesto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/feeds/2725381905623990313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2003414905144268390&amp;postID=2725381905623990313' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/2725381905623990313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/2725381905623990313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/2008/11/dasar-berita.html' title='Dasar Berita'/><author><name>mas_rama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16382227860388846427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SStZ5jOAezI/AAAAAAAAAF0/5lSvr9V9b-I/S220/Img00231.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2003414905144268390.post-8122093743228336295</id><published>2008-11-12T12:19:00.000+07:00</published><updated>2008-11-14T07:45:15.877+07:00</updated><title type='text'>Sejarah Jurnalisme Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Pada awalnya, komunikasi antar manusia sangat bergantung pada komunikasi dari mulut ke mulut. Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);" class="fullpost"&gt;Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan.Di era-era inilah Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2003414905144268390-8122093743228336295?l=jurnalmanifesto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/feeds/8122093743228336295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2003414905144268390&amp;postID=8122093743228336295' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/8122093743228336295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/8122093743228336295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/2008/11/sejarah-jurnalisme-indonesia.html' title='Sejarah Jurnalisme Indonesia'/><author><name>mas_rama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16382227860388846427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SStZ5jOAezI/AAAAAAAAAF0/5lSvr9V9b-I/S220/Img00231.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2003414905144268390.post-8406488458704916534</id><published>2008-11-12T11:03:00.000+07:00</published><updated>2008-11-12T11:10:42.844+07:00</updated><title type='text'>MENULIS BERITA</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;Apa Itu Berita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berita adalah&lt;/span&gt; “suatu penuturan secara benar-benar dan tidak memihak dari   fakta-fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian para pembaca surat kabar.” (William S Maulsby).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berita juga diartikan sebagai&lt;/span&gt; kabar yang menarik dan unik, seperti “orang menggingit anjing, lebih menarik daripada anjing menggigit orang (Nothclife).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berita juga diartikan sebagai&lt;/span&gt; kabar yang aktual dan hangat ( Chilton R Rush)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;SYARAT BERITA&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);" class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;-Menarik&lt;br /&gt;-Informatif&lt;br /&gt;-Lengkap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jenis Berita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-In Depth News&lt;br /&gt;-News&lt;br /&gt;-Hiburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber Berita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-Manusia&lt;br /&gt;-Peristiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kiat Menulis berita. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Yurnaldi &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;dalam&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kiat Praktis Jurnalistik&lt;/span&gt; mengatakan ada 5 syarat agar berita menjadi menarik:&lt;br /&gt;• Menguasai bahasa. Bahasa yang dimaksud adalah bahasa Jurnalistik.&lt;br /&gt;• Kalimat hendaknya pendek-pendek, sederhana dan tidak ruwet.&lt;br /&gt;• Berita hendaknya faktual (fakta-fakta) dan aktual&lt;br /&gt;• Berita hendaknya objektif dan lengkap&lt;br /&gt;• Menggunakan Unsur 5 W + I H.&lt;br /&gt;WHO (Siapa) yang kita jadikan bahan berita&lt;br /&gt;WHAT (apa) yang terjadi dengan dia atau peristiwa apa yang terjadi&lt;br /&gt;WHERE ( di mana) peristiwa itu terjadi&lt;br /&gt;WHEN (Kapan), peristiwa itu berlangsung&lt;br /&gt;WHY (Mengapa) peristiwa itu terjadi&lt;br /&gt;HOW ( bagaimana) jalannya peristiwa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Contoh Berita :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dominikus Borotama (11), bocah tidak sekolah, penggembala kerbau di Tikorambo, sumba Barat, Pulau Sumba, nusa Tenggara Timur, tewas ditembak seorang oknum polisi yang diduga mabuk di tempat rekreasi Waekelo Sawah, waikabubak, Jumat (22/4) petang. Kota Tikorambo sempat rusuh akibat amuk massa ke markas polisi. (Kompas/24/4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2003414905144268390-8406488458704916534?l=jurnalmanifesto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/feeds/8406488458704916534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2003414905144268390&amp;postID=8406488458704916534' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/8406488458704916534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/8406488458704916534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/2008/11/menulis-berita.html' title='MENULIS BERITA'/><author><name>mas_rama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16382227860388846427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SStZ5jOAezI/AAAAAAAAAF0/5lSvr9V9b-I/S220/Img00231.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2003414905144268390.post-6900750718741194333</id><published>2008-11-12T10:41:00.000+07:00</published><updated>2008-11-12T10:44:47.075+07:00</updated><title type='text'>Jurnalistik, Jagat Pendukung Perubahan</title><content type='html'>&lt;b style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;A. Pengertian Jurnalistik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Jurnalistik adalah kegiatan mengumpulkan, menulis, menyunting dan menyebaluaskan berita dan karangan untuk surat kabar, majalah, radio dan televisi, kepada massa sebanyak-banyaknya dalam waktu secepat-cepatnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);" class="fullpost"&gt;&lt;b&gt;B. Ruang Lingkup Proses Jurnalistik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;1. Pengumpulan informasi&lt;br /&gt;2. Penulisan informasi&lt;br /&gt;3. Penyuntingan informasi&lt;br /&gt;4. Penyebarluasan informasi&lt;br /&gt;Pengumpulan informasi. Lazimnya petugas pengumpul, pewarta (reporter, wartawan atau jurnalis) lembaga atau industri media massa mengumpulkan informasi. Semua pelaku di jajaran redaksi (Pemimpin Umum hingga reporter muda) adalah wartawan yang wajib melakukan tugas-tugas jurnalistik: wawancara, pengamatan, atau riset.&lt;br /&gt;Penulisan informasi. Dilakukan sesuai periode terbit atau jam-siar media. Bentuk penulisan informasi bisa berwujud: berita, artikel, feature, kolom, tajuk rencana, pojok, berita-analisis, wawancara, dokumenter (radio atau televisi).&lt;br /&gt;Pada dasarnya, produk tulisan dikategorikan menjadi dua; fakta dan opini. Fakta adalah informasi tentang realitas empirik, yang digali dari berbagai sumber/ narasumber, kemudian diolah menjadi bentuk berita (straight news, soft news, feature). Sedangkan opini adalah pendapat pribadi wartawan atau lembaga media massa,  yang berwujud: artikel, kolom, tajuk-rencana, dan pojok.&lt;br /&gt;Penyuntingan (editing) informasi. Karya yang bagus perlu diolah dengan matang dan dilakukan pembenahan agar lebih cantik. Prasayarat karya jurnalistik layak-muat atau layak-siar ketika lengkap. Tulisan yang enak dibaca, fotonya pun bagus. Pembaca akan mudah memahami isi tulisan tersebut.&lt;br /&gt;Penyebarluasan informasi. Produk informasi siap saji, harus segera disebarkan pada masyarakat, baik lewat media cetak (printed media), radio (audio media), dan televisi (audiovisual), dan telematika (telematic media). Kantor berita Indonesia seperti Antara, menerbitkan berita dua kali sehari; pagi dan sore. Koran terbit harian, majalah berita terbit mingguan, majalah terbit bulanan atau website, media cyber yang terbit setiap waktu. Beberapa detik setelah kejadin atau peristiwa itu muncul. Contohnya: detik.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C. Sejarah Jurnalistik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Istilah jurnalistik berasal dari bahasa Belanda journalistiek. Seperti halnya dengan istilah bahasa Inggris journalis yang bersumber pada perkataan journal, ini merupakan terjemahan dari bahasa Latin diurna yang berarti “harian” atau “setiap hari”.&lt;br /&gt;Menurut sebuah sumber (Harahap, dalam Mardjuki, 1984), tradisi jurnalistik dimulai pada tahun 600 Sebelum Masehi. Ketika itu di Peking, Tiongkok, diterbitkan surat kabar pertama King Pao. Terbit sekali seminggu dan isinya mengenai keputusan-keputusan Dewan Penasihat atau berita-berita mengenai keluarga raja.&lt;br /&gt;Di Kekaisaran Romawi surat kabar pertama yang bernama Acta Diurna baru muncul pada tahun 59 Sebelum Masehi, yaitu pada zaman pemerintahan Julius Caesar. Waktu itu  Caesar memerintahkan agar semua keputusan senat Romawi ditempelkan di ruang muka gedung senat. Tempelan keputusan itu disebut Acata Senatus.&lt;br /&gt;Semua keputusan senat penting diketahui umum, sehingga Acta Senatus merupakan “surat kabar” resmi Banyak yang meruh perhatian pada Acta Senatus, khususnya tuan—tuan tanah. Mereka menggaji orang yang setiap hari kerjanya menyalin semua berita resmi dalam Acta Senatus. Tukang catat itu untuk memperdagangkan hasil  salinan mereka atas berita-berita resmi. Salinan ini dijual pada tuan tanah yang tak memiliki sekretaris. Jualannya ini dinamakan Acta Diurna, dan pekerjanya disebut Acta Diurnarii. Dari sinilah berasal kata journal dalam bahasa Perancis.&lt;br /&gt;Di Indonesia surat kabar pertama berbahasa Belanda beranama Bataviasche Nouvelles en Politique Raisonnementes yang disingkat jadi Bataviasche Nouvellles. Terbit pertama kali pada 7 Agustus 1744 dan berakhir pada tanggal 20 Juni 1746 (Soedarjo Tjokrosisworo 1958:134). Surat kabar untuk bacaan penduduk, dengan bahasa rakyat, bahasa darah atau melayu terbit pertama kali di Surabaya, yaitu mingguan Bromartani, usaha suatu kongsi Belanda Harteveldt &amp;amp; Co. Bromartani bukan surat kabar Indonesia, bukan koran nasional. Surat kabar nasional yang pertama ialah harian Medanprijaji, terbit di Jakarta, 1910.&lt;br /&gt;Dengan majunya teknologi yang begitu pesat yang menghasilkan radio dan televisi, jurnalistik menjadi semakin luas karena tidak lagi mengelola laporan harian untuk sarana surat kabar, tetapi juga untuk sarana radio dan televisi; serta media terbaru adalah telematik, yang menggunakan (komunikasi) satelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;D. Manfaat Jurnalistik&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kegiatan komunikasi massa, produk-produk jurnalistik yang disampaikan melalui berbagai media massa, memiliki manfaat bagi audiens-nya untuk:&lt;br /&gt;1. mendidik (to educate)&lt;br /&gt;2. menghibur (to entertain)&lt;br /&gt;3. mempengaruhi (to influence)&lt;br /&gt;4. menyampaikan kritik sosial (social control)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2003414905144268390-6900750718741194333?l=jurnalmanifesto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/feeds/6900750718741194333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2003414905144268390&amp;postID=6900750718741194333' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/6900750718741194333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2003414905144268390/posts/default/6900750718741194333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jurnalmanifesto.blogspot.com/2008/11/jurnalistik-jagat-pendukung-perubahan_11.html' title='Jurnalistik, Jagat Pendukung Perubahan'/><author><name>mas_rama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16382227860388846427</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_3Wrttc3RUIc/SStZ5jOAezI/AAAAAAAAAF0/5lSvr9V9b-I/S220/Img00231.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
